EVALUASI PENGGUNAAN ANTIKOAGULAN PARENTERAL BERDASARKAN METODE DDD, DU 90%, DAN PARAMETER INR PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT
Keywords:
antikoagulan parenteral, DDD, DU 90%, infark miokard akutAbstract
Latar belakang: Infark miokard akut merupakan kondisi kardiovaskular serius yang memerlukan tata laksana antikoagulan untuk mencegah pembentukan serta perluasan trombus. Penggunaan antikoagulan parenteral perlu dievaluasi secara sistematis untuk mengetahui pola penggunaan, kuantitas penggunaan obat, serta aspek monitoring klinis yang berkaitan dengan efektivitas dan keamanan terapi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antikoagulan parenteral pada pasien infark miokard akut berdasarkan profil penggunaan obat, metode Defined Daily Dose (DDD), Drug Utilization 90% (DU 90%), serta parameter klinis berupa nilai INR, ketepatan dosis, dan kejadian efek samping. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan retrospektif menggunakan data rekam medis pasien infark miokard akut yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit X Kota Semarang periode 2019–2020. Evaluasi kuantitatif penggunaan antikoagulan dilakukan menggunakan metode DDD per 100 hari rawat inap dan DU 90%. Parameter klinis yang diamati meliputi perubahan nilai INR sebelum dan sesudah pemberian antikoagulan, ketepatan dosis, serta kejadian efek samping. Analisis perubahan nilai INR dilakukan menggunakan uji Paired Sample T-Test. Hasil: Berdasarkan diagnosis, penggunaan antikoagulan parenteral lebih banyak ditemukan pada pasien NSTEMI. Antikoagulan yang paling banyak digunakan adalah heparin sebesar 60,63%, diikuti fondaparinux sebesar 39,37%. Rute pemberian terbanyak adalah intravena sebesar 99,21%, dengan dosis penggunaan tertinggi yaitu heparin 5000 IU. Frekuensi pemberian tersering adalah satu kali sebesar 99,21%, dengan lama terapi terbanyak selama 1–3 hari sebesar 87,76%. Berdasarkan nilai DDD/100 hari rawat inap, fondaparinux menunjukkan nilai tertinggi pada pasien STEMI sebesar 23,673 DDD/100 hari rawat inap dan pada pasien NSTEMI sebesar 24,786 DDD/100 hari rawat inap. Antikoagulan yang termasuk dalam segmen DU 90% adalah fondaparinux. Hasil uji Paired Sample T-Test menunjukkan nilai signifikansi 0,000, yang mengindikasikan adanya perubahan bermakna nilai INR sebelum dan sesudah pemberian antikoagulan. Evaluasi dosis heparin menunjukkan bahwa 55,84% penggunaan termasuk tepat dosis, sedangkan 44,16% termasuk kurang tepat. Nilai INR setelah pemberian heparin berada pada rentang 1,0–2,0 sebesar 63,64% dan rentang 2,1–3,0 sebesar 36,36%. Efek samping yang paling banyak ditemukan adalah heparin-induced thrombocytopenia sebesar 2,59%. Kesimpulan: Penggunaan antikoagulan parenteral pada pasien infark miokard akut didominasi oleh heparin berdasarkan frekuensi penggunaan, sedangkan fondaparinux memiliki nilai DDD tertinggi dan termasuk dalam segmen DU 90%. Pemberian antikoagulan menunjukkan perubahan bermakna terhadap nilai INR. Namun, masih ditemukan ketidaktepatan dosis dan kejadian efek samping. Oleh karena itu, evaluasi penggunaan obat secara kuantitatif melalui metode DDD dan DU 90%, serta monitoring klinis, diperlukan untuk mendukung ketepatan, efektivitas, dan keamanan terapi antikoagulan parenteral pada pasien infark miokard akut.
Downloads
Published
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.